Bertahun-tahun yang lalu, istilah “memantaskan diri” menjadi sebuah primadona. Kalimatnya berbau romantis sekaligus sakral, merujuk pada usaha keras memperjuangkan sebuah hubungan salah satu caranya dengan memperbaiki diri sendiri. Karena katanya orang yang baik akan bersama orang yang baik pula. Jadi, aku pun mulai melakukan banyak perbaikan besar. Jadi senang masak, karena katanya c0wok suka cewek yang bisa masak, dan lain sebagainya. Hingga akhirnya aku sadar suatu harus mengubah diri sendiri agar bisa diterima oleh orang lain? Bukankah, semestinya kita mengubah diri agar bisa diterima oleh diri sendiri? Mengapa harus membuang kebiasaan-kebiasaan buruk agar tidak ditinggalkan pasangan? Bukankah semestinya hal-hal buruk itu ditinggalkan agar kita menjadi lebih baik untuk diri sendiri? Ternyata selama ini aku memaknai kalimat itu dengan keliru. Memantaskan diri, semestinya bukan untuk siapa pun pasanganku nanti, melainkan untuk diriku sendiri. Apa bedanya? Banyak aku memaknai memantaskan diri sebagai upaya menjadi “layak” untuk pasangan. Hingga aku berusaha “mencari” dari luarDulu tujuanku memantaskan diri adalah supaya disegerakan jodohnya. Agar aku tak lagi-lagi mengalami sakitnya patah hati. Karenanya, tanpa sadar aku menjadikan diriku objek untuk sebuah standar dari luar. Aku jadi terpaku pada apa yang diinginkan oleh pasanganku. Perempuan seperti apa sih yang dia suka? Hobi apa yang membuat nilaiku di matanya bertambah? Sikap apa yang harus kupunya supaya dia semakin sayang? Dia suka sama selebgram ini, oh, berarti aku harus menjadi seperti si selebgram. Aku selalu bertanya apa yang membuatnya nyaman, sampai aku lupa bertanya pada diriku sendiri apa yang membuatku konten menarik seputar mencintai diri sendiri Beragam Rumus Self Love dari Podcast. Pengingat Betapa Berharganya DirimuSemestinya aku mencari dari dalam diriku. Sebab mengikuti standar dari luar itu melelahkanPadahal seharusnya kucari dalam diriku sendiri Photo by Elina Sazonova via Mungkin nggak pernah ada definisi yang mutlak untuk sebuah kata “pantas”. Sebab yang pantas pagi A, belum tentu pantas bagi B dan C. Oleh karena itu, sebuah kesalahan bila aku mencari referensi kepantasan diri dari luar diriku. Mungkin itulah yang membuat proses ini terasa sangat melelahkan. Sebab mengikuti standar dari orang lain itu berat. Karena aku ingin menjadi seseorang yang pantas untuknya maka aku pun mati-matian mengikuti “seleranya”. Kuabaikan semua potensi diri sendiri dan menjadi seseorang yang dia mau. Ah, lelah sekali rasanya menjadi seseorang yang bukan ketika kabar baik tak datang juga, aku sibuk menyalahkan diri sendiri. Apa diri ini memang tak layak dicintai?ketika gagal jadi menyalahkan diri sendiri Photo by Tomas Williams via Segalanya memburuk ketika apa yang kuharapkan tak sejalan dengan kenyataan. Apa yang kuperjuangkan ternyata harus direlakan. Apa yang mati-matian kupertahankan ternyata harus dilepaskan. Ketika hal ini terjadi, aku justru menyalahkan diriku sendiri. Dalam benakku yang polos ini, percaya bahwa dia pergi karena ada sesuatu yang salah dari diriku. Sesuatu yang membuatku nggak layak untuk dicintai. Apakah aku memang kurang pantas untuk diperjuangkan sepenuh hati?Kini aku mengerti bahwa “memantaskan diri” yang sesungguhnya bukan untuk orang lain melainkan diriku sendirimemantaskan diri untuk diri sendiri Photo by visionPic via Sesal dan geli itu selalu datang setiap aku mengingat kebodohan di masa lalu. Pemahaman yang salah atas konsep memantaskan diri itu ternyata punya dampak yang begitu besar. Setelah bercak-bercak hitam dalam perjalanan hubungan, kini aku mengerti satu hal. Memantaskan diri yang digembor-gemborkan itu semestinya bukan untuk orang lain. Bukan pacarku saat ini, atau siapa pun jodohku nanti. Satu-satunya yang layak menerima hasil akhir dari upaya meningkatkan kualitas diri ini … ya diriku sendiri. Penentu standar pantas dan nggak pantas itu juga diriku membenahi diri bukan agar layak dicintai orang lain, melainkan agar aku bisa mencintai diriku sendiriagar bisa mencintai diri sendiri Photo by Leah Kelley from Pexels via Mudahnya begini. Bagaimana aku bisa berharap seseorang mencintai dan memperjuangkanku sampai akhir, bila aku nggak bisa mencintai diriku sendiri? Bagaimana orang bisa menghargai setiap potensi dalam diriku ini bila aku sendiri nggak bisa menghargainya sendiri? Sebelum aku melaju ke mana-mana, semestinya kubenahi diri ini untuk diriku sendiri. Aku menuntut diriku sendiri untuk begini dan begitu, agar aku tidak lagi menatap cermin dengan sebuah pertanyaan sesal “kenapa aku begini?” yang menggelanyuti aku sadar bahwa sosok yang bisa kucintai ini, akan mudah dicintai pula oleh orang lainmudah pula dicintai orang lain Photo by Priscilla Du Preez via Mengapa menjadi sosok yang bisa dicintai oleh diri sendiri ini penting? Karena dengan begitu, aku bisa meraih mimpi-mimpiku. Aku berani dan memercayai diriku sendiri untuk mencoba hal-hal baru dan berkembang. Aku mengizinkan diriku sendiri untuk terus belajar sehingga diri ini kaya dengan ilmu. Aku memberi hak seluas-luasnya kepada diriku sendiri untuk menemukan potensi dan mengubahnya menjadi prestasi. Aku memberi kesempatan pada diriku untuk berkenalan dengan banyak orang dan tak gentar menjalin relasi. Diri yang seperti itu, bukankah mudah juga dicintai oleh orang lain?Memantaskan diri agar bisa dicintai oleh orang lain itu sangat melelahkan dan membuatmu terombang-ambing dalam ketidakpastian. Sebab apa yang pantas untuk A dan B belum tentu sama. Tetapi, memantaskan diri agar dicintai oleh dirimu sendiri lebih mudah dan efeknya bertahan untuk jangka panjang. Bonusnya, kepercayaan diri dan kenyamanan atas diri sendiri itu membuatmu bisa menjadi sosok yang lovable dan mudah dicintai. Aku, sih, pilih yang kedua. Kalau kamu?
Memantaskan dan mendekatkan diri kepada Allah SWT terbuka lebar bagi siapa saja yang menghendakinya. Proses memantaskan diri tidak semudah membalikkan telapak tangan. Tentu terdapat hal-hal yang harus diperjuangkan dan butuh waktu dalam mengambil keputusan. Inilah yang menjadi tema dalam Inspiring Talkshow yang juga menjadi salah satu rangkaian acara Wonderful Muharram Fest. Acara yang diselenggarakan oleh Takmir Masjid Ulil Albab UII bekerjasama dengan Big Bang Center for Medical Islamic Activities ini mengangkat topik “Memantaskan Diri tak Semudah Bermimpi” dengan menghadirkan pembicara Anandito Dwis dan Anisa Rahma. Keduanya merupakan public figure yang digemari oleh masyarakat luas khususnya para remaja. Kehadiran mereka menarik minat para mahasiswa, sehingga Masjid Ulil Albab tempat terselenggaranya Talkshow pada Hari Sabtu 21/9 sangat ramai dipenuhi jamaah. Kedua pasangan itu bertutur tentang proses hijrah yang mereka lalui. Dito, sapaaan akrab suami dari Anisa ini menyampaikan tentu ada masa kenakalan pada setiap orang saat remaja. Memilih teman bergaul sangatlah penting, sebab lingkungan dapat menjadi faktor pembentuk karakter seseorang. Di masa kuliahnya, Dito mencoba untuk bergaul dengan teman-teman yang dapat mendukung proses pemantasan dirinya. “Seseorang dapat dilihat agamanya dengan melihat agama teman-temanya,” ucap Dito. Berbeda dengan kisah hijrah yang dialami oleh Anisa. Panggilan untuk berhijrah ia alami ketika masih dalam dunia hiburan. Keputusan untuk berhijrah menggunakan hijab ia tempuh dengan berfikir matang. Ketika itu, terbersit dalam dirinya rasa takut kehilangan pekerjaan dan popularitasnya akan menurun setelah berhijrah. Namun, Anisa membulatkan tekat untuk tetap berhijrah. Anisa menuturkan bahwa hal terberat dalam menjalankan hijrah adalah istiqomah. Maka dari itu mengikuti kegiatan kajian merupakan salah satu langkah untuk menjaga keistiqomahannya, karena dengan begitu lingkungan akan mendukung proses berhijrah. Anisa juga menambahkan, ketika niat diluruskan hanya karena Allah maka rezeki akan dimudahkan oleh- Nya. Kisah keduanya menjadi inspirasi bagi jamaah yang didominasi oleh para mahasiswa. Hijrah yang dijalani keduanya menjadi jalan atas pertemuan mereka. Keduanya juga bercerita tentang kisah cinta mereka hingga menjadi pasangan suami istri. Memantaskan diri ke hal yang baik akan menarik hal-hal baik lainnya termasuk urusan jodoh, begitulah pesan yang tersirat dalam kisah yang mereka tuturkan. NR/ESP
Maksuddari memantaskan diri adalah berusaha berbenah diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Karena janji Allah, orang baik pasti akan dijodohkan dengan yang baik pula begitu juga sebaliknya, sebagaimana yang telah Allah tegaskan pada Surah an-Nur ayat 26:
ALLAH SWT tahu sudah sesungguh apa kamu memantaskan diri. Karenanya Dia tahu sudah layakkah kamu disandingkan dengan seorang yang layak membersamai. Mungkin kamu merasa sudah melakukan yang terbaik agar Allah SWT layak memberimu pasangan sejati. Namun bisa jadi dimata Allah SWT, upayamu belum maksimal dan kamu harus berupaya lebih keras lagi. BACA JUGA Pilih-pilih Jodoh Karenanya jangan merasa cepat puas meski kamu sudah belajar pranikah. Mungkin ada amal sholeh yang harus lebih banyak kamu kerjakan agar kamu ada dititik layak mendapatkan jodoh pilihan-Nya. Atau bisa jadi ada sikap yang harus kamu perbaiki kepada orangtuamu. Atau mungkin lingkungan tempatmu bergaul terlalu sempit dan kamu harus memperbanyak silaturahim. Apapun itu yang pasti adalah teruslah mengevaluasi diri. Cobalah tanya pada dirimu sendiri, apa yang membuatmu belum juga menikah dan menemukan pasangan yang sah? Teruslah berikhtiar dan barengi dengan kesabaran serta keikhlasan. Semoga dengan begitu Allah berikan pasangan terbaik yang dapat memberimu kebahagiaan. []2 "Untukmu yang selalu kusebut dalam doa, izinkan aku menjadi bagian dari hidupmu." 3. "Jika akhirnya kamu tidak bersama dengan orang yang sering kamu sebut dalam doamu, mungkin kamu akan dibersamakan dengan orang yang diam-diam sering menyebut namamu dalam doanya." 4. "Kau hanya perlu menggunakan waktu menunggumu dengan hal baik. Jakarta - Allah SWT memerintahkan seluruh hamba-Nya untuk menyeimbangkan diri dalam perkara duniawi dan akhirat. Hal tersebut tentu saja karena keduanya sama-sama penting. Meski begitu, apabila sudah dirasa terlalu mencintai dunia, umat muslim dapat menerapkan sikap zuhud dalam kehidupan sehari-hari. Berikut arti dari zuhud beserta buku Awas, Ada Setan di Rumah Anda! yang ditulis oleh Ahmad Zacky El-Syafa, zuhud adalah keadaan meninggalkan kehidupan dunia yang dianggap berlebihan. Meninggalkan maksudnya tidak sepenuhnya menarik diri dari kehidupan dunia, melainkan meninggalkan ketergantungan dan rasa cinta yang berlebihan pada dunia. Dengan menyingkirkan halangan yang menutupi dalam beribadah kepada-Nya, seorang muslim yang zuhud dapat lebih fokus dan tenang dalam menjalani terdapat banyak orang yang masih salah paham dengan arti zuhud. Ada sebagian yang masih menyangka bahwa zuhud selalu identik dengan keterbelakangan, hidup miskin, seadanya, berpakaian kumal, dan lain sebagainya. Zuhud sendiri lebih tepat dikatakan sebagai sikap yang tidak terikat dengan cinta kekuasaan, cinta harta benda, dan hal-hal yang sifatnya duniawi. Zuhud menjadi salah satu hikmah pemahaman yang membuat para penganutnya mempunyai pandangan khusus terhadap kehidupan duniawi. Adapun menurut al-Taftazani, zuhud dalam Islam tidak bersyaratkan kemiskinan. Bahkan dalam beberapa kasus terdapat seseorang yang kaya dan pada saat yang sama merupakan seorang zahid, yakni sebutan untuk orang yang adalah Utsman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf. Keduanya sebagai orang terdekat Rasulullah yang dikenal sebagai hartawan sekaligus zahid dengan harta yang mereka miliki. Utsman bin Affan membekali pasukan Nabi Muhammad pada masa paceklik dan membeli sumur seorang Yahudi yang melarang kaum muslimin untuk menimba air sumurnya halnya dengan Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf juga tidak segan-segan memberikan harta niaganya maupun keuntungannya ketika kaum muslimin membutuhkannya. Oleh karena itu Rasulullah SAW bersabda, "Jika di antara kamu sekalian melihat orang laki-laki yang selalu zuhud dan berbicara benar, maka dekatilah ia. Sesungguhnya ia adalah orang yang mengajarkan kebijaksanaan."Macam-Macam ZuhudFaidh Kasyani menyebutkan dalam bukunya Etika Islam Menuju Evolusi Diri bahwa zuhud memiliki tiga derajat atau tingkatan. Derajat pertama yang paling rendah adalah keinginan orang zuhud berupa selamat dari neraka dan siksa akhirat. Inilah zuhudnya orang-orang yang kedua berupa sikap zuhud karena ingin mendapatkan pahala dari Allah dan kenikmatan surga. Ini zuhudnya orang-orang yang berharap. Derajat ketiga dan paling tinggi adalah tidak mempunyai keinginan, kecuali kepada Allah dan perjumpaan dengan-Nya. Inilah zuhudnya orang-orang dari sudut pandang hukum, sikap zuhud dikategorikan menjadi wajib, sunnah, dan mubah. Zuhud wajib adalah zuhud dari barang haram, zuhud sunnah adalah zuhud dari barang halal, dan zuhud mubah adalah zuhud dalam barang-barang yang Menjelaskan Sikap ZuhudMenurut para sufi, zuhud adalah berpaling dan mencintai sesuatu ke arah yang lebih baik. Hal itu disebabkan pada pandangan bahwa kehidupan akhirat lebih baik daripada dunia, tentu saja karena kehidupan akhirat lebih baik daripada dunia. Itu semua berkaitan dengan kehidupan di dunia yang temporer dan mudah dari buku Tadabbur Cinta Nyanyian Cinta Para Sufi tulisan H. Ahmad Zacky El-Syafa, terdapat kisah Abu Bakar Ash Shiddiq yang menyedekahkan seluruh hartanya untuk kepentingan jihad Islam. Ia ditanya, "Apa yang engkau tinggalkan, wahai Abu Bakar?" Ia menjawab, "Abqaitu Allah wa rasulahu," yang artinya "Aku tinggalkan Allah dan Rasul-Nya."Hal tersebut menandakan bahwa Abu Bakar Ash Shiddiq menganggap bahwa keimanan pada Allah dan Rasul-Nya menjadi kunci terbaik sebagai warisan darinya. Bukan materi berupa harta dan kekuasaan. Sebab hal yang bersifat duniawi akan menghalangi seseorang dalam menyembah Allah SAW menyatakan dalam sabdanyaاِزْهَدْ فِـي الدُّنْيَا ، يُـحِبُّكَ اللّٰـهُ ، وَازْهَدْ فِيْمَـا فِي أَيْدِى النَّاس ، يُـحِبُّكَ النَّاسُArtinya Zuhudlah kamu terhadap dunia, maka Allah akan mencintaimu. Dan zuhudlah terhadap apa yang ada di tangan manusia, maka mereka akan mencintaimu." HR Ibnu Majah.Adapun terkait salah satu tanda seseorang yang zuhud adalah tidak bergembira dengan apa yang ada dan tidak bersedih karena hal yang hilang. Hal tersebut dijelaskan dalam Al-Qur'an surat Al Hadid ayat 23لِّكَيْلَا تَأْسَوْا عَلٰى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوْا بِمَآ اٰتٰىكُمْ ۗوَاللّٰهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُوْرٍۙArtinya Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan jangan pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan Orang yang ZuhudDinukil dari buku berjudul Mempertajam Mata Batin dengan Amalan Puasa Ya Man Huwa susunan Dr. Halimatussa'diyah, S. Ag., berikut adalah beberapa ciri-ciri orang yang zuhud1. Mengetahui bahwa kehidupan dan kesenangan dunia hanyalah sementara2. Mengetahui bahwa kehidupan akhirat itu kekal dan lebih baik3. Memandang bahwa dunia adalah tempat untuk menyiapkan kehidupan akhirat4. Mengeluarkan dari hati kecintaan pada dunia5. Memasukkan kecintaan pada Allah6. Melepaskan diri dari ketergantungan pada makhluk7. Mempunyai anggapan bahwa kebahagiaan bukan diukur dari materi, tetapi dari spiritualitas8. Memandang bahwa harta dan jabatan adalah amanah untuk manfaat orang banyak9. Menggunakan harta untuk berinfak di jalan Allah SWT10. Meninggalkan hal-hal yang berlebihan meskipun halal11. Menunjukkan sikap hemat, hidup sederhana, dan menghindari bermewah-mewahan12. Menjaga anggota tubuh agar terhindar dari segala yang dapat menjauhkan diri dari Allah SWT misalnya menjaga diri dari bicara kotor, selalu menyebut nama Allah SWT, menjaga pandangan, dan lain sebagainyaItulah penjelasan dari arti sikap zuhud dan macamnya. Dengan mengetahui hal-hal terkait sikap zuhud sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah SAW, umat muslim dapat lebih bijak dalam mengendalikan hawa nafsu duniawi. Dalammasa penantian ini pun bisa diisi dengan memperbaiki dan memantaskan diri agar mendapatkan jodoh yang terbaik. Karena pada dasarnya jodoh adalah cerminan diri. Mencari jodoh dalam Islam bisa dimulai dengan memperbaiki dan memantaskan diri. Karena wanita yang baik untuk laki - laki yang baik. Wanita yang keji untuk laki - laki yang keji.
“Capek Kuliah, Pengen Nikah ajah”, “Capek kerja, pengen nikah ajah”. Kata-kata ini sering kita dengarkan atau bahkan kita sendiri mengucapkan ketika sudah lelah dengan aktivitas perkuliahan; tugas-tugas dari dosen yang menumpuk; dan banyak masalah atau kerjaan dari kantor. Seakan akan setelah menikah semua masalah akan selesai dan berakhir dengan pernikahan. Salah satu yang memicu hal ini ialah romantisasi pasangan suami istri di sosial media atau para selebgram yang memamerkan kemesraan bersama pasangannya sehingga ada stereotip “couple goals” yang didefinisikan oleh masing-masing muda-mudi saat ini. Hal ini memicu banyak anak muda yang dengan mudah ingin menyelesaikan masalahnya dengan menikah tanpa mengetahui hakikat dari pernikahan. * Pernikahan merupakan hal yang sakral dan suci sehingga dalam Al-Qur’an disebut mi tsaqan ghali zan atau perjanjian yang kokoh. Ketika ada keinginan dari dalam diri untuk menikah baiknya bagi calon suami dan istri untuk memantaskan diri bukan hanya mempersiapkan pernikahan. Mempersiapkan pernikahan lebih kepada mengulik-ulik tentang vendor pernikahan untuk mewujudkan “wedding dream”, MUA make up artist siapa yang akan digunakan, fotografer pernikahan, souvenir, dan perintilan nikahan lainnya. Sedangkan memantaskan diri lebih kepada persiapan secara lahir dan batin sebelum memasuki bahtera rumah tangga. Memantaskan diri bisa menjadi salah satu usaha untuk menjemput jodoh. Memantaskan diri sangat bisa dimulai sebelum kita bertemu dengan jodoh kita. Firman Allah dalam An-Nur ayat 26 yang berarti “Wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik pula”. Dari ayat ini meyakinkan kita bahwa Allah Swt pasti memberikan pasangan yang setara dengan diri kita sendiri. Jika seorang laki-laki menginginkan calon pendamping hidupnya ialah seorang yang ahli Qur’an berarti ia juga sudah berusaha menjadi seorang ahli Qur’an. Jika seorang perempuan menginginkan calon pasangan hidup yang berwawasan luas, berarti ia juga sedang berusaha untuk memperluas wawasannya. Sehingga untuk menikah bukan hanya melengkapi syarat dan rukun nikah tetapi dari jauh sebelumnya telah memantaskan diri untuk menikah. Langkah Memantaskan Diri Sebelum Menikah Pertama, dimulai dari memahami diri sendiri. Sebelum ada orang lain yang ingin kita pahami, cintai, dan sayangi yatu seorang suami. Hendaknya kita memahami diri sendiri terlebih dahulu. Menurut Koentjoro, memahami diri sendiri merupakan kemampuan seseorang untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan yang ada pada dirinya sehingga dapat melakukan respon yang tepat terhadap tuntutan yang muncul dari dalam diri maupun dari luar. Beberapa orang dapat mengenali dirinya dengan baik, namun bagi sebagian yang lain belum mengetahui dan memahami dirinya. Salah satu Teknik untuk mengenali diri sendiri digagas oleh Joseph Luft dan Harrington Ingham dengan mengembangkan konsep Johari Window dengan membagi diri menjadi 4 bagian. Empat bagian tersebut yaitu bagian publik public area ialah daerah yang memuat hal-hal yang diketahui oleh dirinya dan orang lain; bagian buta blind area ialah bagian yang diketahui oleh orang lain tetapi tidak diketahui dirinya; bagian tersembunyi hidden area ialah bagian yang memuat hal-hal yang diketahui oleh diri sendiri tetapi tidak diketahui orang lain; dan bagian yang tidak disadari unconscious area ialah bagian yang tidak diketahui baik oleh dirinya sendiri maupun orang lain. Tetapi ketidaksadaran ini kemungkinan bisa muncul. Kedua, memantaskan persiapan mental dan mengelola emosi. Setelah menikah yang dihadapi bukan hanya suami melainkan beserta keluarganya. Akan banyak sekali watak orang yang kita temui dalam diri suami maupun keluarganya yang mungkin saja akan menguras emosi. Setidaknya dengan mempersiapkan dan belajar mengelola emosi sebelum menikah kita mengetahui bagaimana cara diri kita menyikapi suatu masalah, bagaimana cara self healing ketika menghadapi suatu masalah dalam rumah tangga. Ketiga, memantaskan ilmu. Sebelum menikah tidak ada salahnya kita mulai membaca ilmu ilmu dalam pernikahan, ilmu parenting, manajemen konflik dalam rumah tangga, edukasi tentang seks. Di tengah dunia yang serba canggih, ilmu pun bisa diakses dengan gratis melalui tayangan youtube, kajian-kajian virtual, dan ebook parenting yang tersedia di perpustakaan online. Setidaknya mempunyai bekal lebih baik daripada tidak ada bekal sama sekali. Dengan begitu, para calon suami dan istri sudah memiliki gambaran hal-hal apa saja yang terjadi di dalam rumah tangga. Keempat, persiapan keterampilan dasar. Berumah tangga bukan hanya pemenuhan kebutuhan biologis saja. Akan tetapi di dalamnya dibutuhkan kerja sama berbagi peran antara suami dan istri. Setidaknya untuk para calon suami dan istri sudah memiliki keterampilan dasar sehingga kerja sama dapat terwujud antara keduanya. Keterampilan dasar yang dimaksud seperti memasak. Memasak jangan diartikan sebagai memasak opor ayam, gulai, rendang, dan masakan yang penuh dengan rempah-rempah lainnya. Dimulai dari belajar memasak untuk hal-hal yang sederhana seperti memasak air, menggoreng atau merebus telur, menanak nasi, atau bahkan memasak mie instan. Hal ini bisa menjadi skill bertahan hidup ketika mengarungi bahtera rumah tangga. Selain itu mencuci pakaian sendiri, bersih-bersih rumah atau kamar, menjahit dan lain sebagainya. * Memantaskan diri dengan mempersiapkan diri lahir dan batin juga termasuk salah satu ikhtiar untuk menjemput jodoh. Quraish Shihab juga mengatakan bahwa jodoh itu perlu dijemput tetapi dengan memperhatikan batasan-batasan yang ditetapkan oleh agama dan budaya. Di samping berusaha memantaskan diri dengan melakukan berbagai macam persiapan di atas, tetap tak luput diselingi dengan senjata terbaik bagi seorang muslim yaitu doa. Salah satunya dengan doa “Rabbana hablana min azwajina wa zurriyyatina qurrata a’yun wa ja’alna lilmuttaqi na imama” Artinya, “Ya Tuhan kami, anugerakanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati kami dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” Sehingga tidak perlu menjadi beban apabila jodoh belum nampak, mungkin Allah tahu kamu belum pantas sehingga Allah memberikan waktu kamu untuk memantaskan diri, sebelum Ia datangkan jodoh sesuai dengan yang kamu ikhtiarkan. Mahasiswi Magister Syariah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang tertarik pada isu-isu hukum keluarga.
.