“Kerjakan apa yang menjadi bagianmu, dan Allah akan mengerjakan apa yang menjadi bagianNya.” Siapa yang pernah mendengar kalimat itu??? Ayo angkat tangannn...!!! Eh, ada yang blom pernah dengar po? Ok deh, sekarang dah pernah kan? ^^ Kalimat tersebut aku dengar pertama kali bertahun-tahun yang lalu, pas zaman kuliah, sewaktu mulai aktif di kepengurusan UKM Kristen. Lupa, siapa yang mengucapkannya pertama kali sama aku. Yang jelas, kemudian sering pula aku ucapkan ke orang lain, adek tingkatku waktu kuliah, maba or junior di UKM Kristen ^^ Entah kenapa, hari ini teringat lagi kalimat itu dan sebuah ayat Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya; jikalau bukan TUHAN yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga. Mazmur 1271 Tukang bangunan gak pergi memancing sambil berharap Tuhan yang akan membangun rumahnya. Pengawal gak tidur enak-enakan di rumah sambil berharap Tuhan akan menjaga kota. Nuh gak pergi berkebun sambil berharap Tuhan membangun bahtera dan menyelamatkan keluarganya. Orang Israel gak duduk di kemahnya sambil berharap Tuhan meruntuhkan Tembok Yerikho. Daud gak diam di padang bersama dombanya sambil berharap Tuhan menghabisi orang Filistin. Mereka melakukan tanggung jawabnya sambil berharap pada TUHAN. Sudahkah kita melakukan tanggung jawab kita dan berharap pada Tuhan? Kasongan, 13 Juni 2012 -Mega Menulis-Pilihsel dengan angka yang disimpan sebagai teks. Di tab Beranda, klik Tempel > Tempel Spesial. Klik Kalikan, lalu klik OK. Dengan mengalikan setiap sel dengan angka 1, Excel mengonversi teks menjadi angka. Tekan CTRL + 1 (atau + 1 di Mac). Lalu pilih format apa pun.
Tindakan apa saja yang Anda lakukan untuk mengembangkan diri Anda? Adakah cara-cara di luar kebiasaan atau berbeda yang Anda lakukan dalam proses pengembangan? Berikan contoh yang spesifik Tindakan yang dilakukan untuk mengembangkan diri di antaranyaMelakukan evaluasiMenabungMengikuti pelatihan, kursus atau sekolah yang dirasa perluContoh tindakan mengembangkan diriDiketahui bahwa pada saat ini saya baru menyelesaikan pendidikan S1 sistem komputer. Saya mencari pekerjaan dan gajinya saya tabungkan sebagian. Setelah dirasa cukup saya melanjutkan untuk mendaftar di salah satu perguruan tinggi untuk menyelesaikan pendidikan S2. Sebelum saya mendaftar, saya melakukan riset jurusan S2 yang saya ambil untuk kemudian saya evaluasi kecocokannya dengan pekerjaan yang saya inginkan di masa diri merupakan sebuah tindakan yang dilakukan seseorang untuk meningkatkan kualitas hidupnya baik untuk kebutuhan rohani maupun jasmani. Pengembangan diri dapat dilakukan dan dikelola sendiri maupun dengan bantuan orang lebih lanjutMateri tentang pengembangan diri SPJ1
- Dalam dunia kerja, apapun bidang dan jabatannya, seorang karyawan dituntut untuk dapat bekerja sama dalam tim. Bukan hanya bekerja secara individual. Pasalnya, beberapa pekerjaan atau projek tertentu mesti dikerjakan secara tim, lintas divisi, sehingga bisa memperoleh hasil maksimal ataupun mencapai target. Baca juga 5 Ciri Orang Pemalas di Kantor, Bikin Jengkel Rekan KerjaSial ketika kamu dihadapkan dengan rekan kerja yang kurang kompeten. Kurang memiliki pengetahuan, keterampilan atau keahlian memadai di bidang tersebut atau dalam pekerjaannya. Lantas, bagaimana kamu harus menyikapi atau menghadapinya? Berikut tipsnya dari 1. Bersabar dan tetap berpikir positif Jika ternyata kamu mengetahui rekan kerja kurang kompeten, hal pertama yang mesti dilakukan adalah bersabar. Menerima kenyataan atau kondisinya. Tidak perlu berpikiran bahwa kamu yang akan capek sendiri mengerjakan tugas karena rekan kerja yang tidak cakap dalam melakukan suatu pekerjaan di bidang tertentu. Tetaplah positive thinking. Mungkin rekan kerjamu memang kurang kompeten di pekerjaan yang satu, namun memiliki kemampuan di bidang lain. Baca juga 4 Tips Agar Tidak Terlilit Utang Kartu Kredit Misalnya, dia tidak jago menggarap projek tulisan, tetapi mahir dengan pekerjaan yang berhubungan dengan banyak orang, seperti sales dan marketing, maupun public relation. Sementara kamu kebalikannya. Dengan demikian, kamu dan rekan kerja tersebut bisa saling melengkapi. Pasti setiap orang mempunyai kekurangan dan kelebihan, termasuk kamu. 2. Selalu mengingatkan Agar kamu tidak kesal sendiri terhadap kelakuan rekan kerja yang kurang kompeten, tak perlu sungkan untuk selalu mengingatkan pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya. Tentu dengan kalimat yang sopan. Ingatkan bahwa deadline tugasnya sudah dekat, atau hal lain yang berkaitan dengan pekerjaan. Jadi, dia akan berusaha mempercepat kerjanya. Baca juga 9 Tanda Rekan Kerja yang Super Menyebalkan, Kamu Termasuk? Sesekali tanyakan progres pekerjaannya, apakah sudah selesai, apa kendalanya jika belum beres. Bila rekan kerjamu menemui kendala di dalam pengerjaannya akibat kurang kompeten, tidak ada ruginya membantu yang kamu bisa. Dengan membantunya, dia bisa belajar atau mendapatkan ilmu baru untuk menambah kompetensinya. Asalkan membantu untuk menemukan solusi atas kendalanya, bukan menyelesaikan pekerjaannya. 3. Bicarakan dengan atasan Bukan mengadu, tetapi berkoordinasi dengan bos. Bahwa ada salah seorang dari tim kurang kompeten di pekerjaan tersebut. Tujuannya bukan untuk menjelek-jelekkan atau menjatuhkan rekan kerjamu, namun agar ada campur tangan dari atasan terhadap permasalahan juga Jadi Anak Baru di Kantor? Ini Cara “Pedekate” ke Rekan Kerja Bagaimanapun atasan juga perlu tahu tentang kinerja bawahannya. Termasuk masalah yang mungkin dialami bawahannya dalam menyelesaikan tugas tertentu. Dari situ, bos akan mencari tahu dan menanyakan langsung kepada rekan kerja tersebut. Kemudian membuat keputusan, apakah tetap mempercayakannya pada pekerjaan itu sambil mendapat arahan bos atau rotasi pekerjaan, menggantinya dengan tugas baru yang sesuai dengan kompetensinya. 4. Kerjakan pekerjaanmu Tidak perlu sibuk mengurusi rekan kerja yang kurang kompeten. Ngadu sana, ngadu sini untuk menjatuhkannya. Lebih baik fokus pada pekerjaan yang menjadi bagianmu agar cepat selesai. Bila kamu lebih banyak mengomentari tugas orang lain, apa bedanya kamu dengan dia? Banyak omong, sedikit bekerja. Baca juga Rekan Kerja Dapat Gaji Lebih Tinggi, Ini yang Sebaiknya Anda Lakukan Kamu yang akan jadi sasaran kritik atau omelan bos karena terlalu mencampuri pekerjaan orang lain. Kerjakan apa yang menjadi tanggung jawabmu. Jika sudah selesai, kamu bisa membantu rekan kerja yang mengalami kesulitan. Saling tolong menolong supaya target tim dapat tercapai dan memperoleh hasil memukau. 5. Meminta ikut program pelatihan Setelah projek tim tuntas, kamu dapat meminta rekan kerjamu yang kurang kompeten untuk mengikuti program pelatihan untuk meningkatkan keterampilan. Toh, ini untuk kebaikan dan kemajuan kariernya. Kalau perlu, kamu dapat mengusulkan pelatihan kepada perusahaan sesuai kebutuhan pegawai. Misalnya, pelatihan SEO, copywriting, social media, dan sebagainya. Segera buat proposal agar usulan pelatihan segera ditindaklanjuti oleh atasan atau pihak HRD. Dengan demikian, produktivitas dan kinerja karyawan di kantor dapat meningkat dibanding sebelumnya. Perusahaan juga yang untung jika memiliki sumber daya dengan kompetensi memadai. Pacu Rekan Kerja untuk Mengembangkan Diri Tak dimungkiri rasa kesal pasti ada bila bekerja dengan rekan yang kurang kompeten. Namun marah pun tidak bisa mengubahnya. Sebagai teman satu tim, kamu harus membangkitkan motivasinya untuk terus mengembangkan diri, meningkatkan keterampilan dan keahlian. Salah satunya melalui training. Artikel ini merupakan hasil kerjasama antara dengan Isi artikel menjadi tanggung jawab sepenuhnya Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Mari bergabung di Grup Telegram " News Update", caranya klik link kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
2 Tindakan apa saja yang pernah kamu lakukan yang menunjukkan bahwa kamu menjunjung tinggi nilai keadilan dan kepedulian? Sebutkan minimal dua. 3. Pilihlah dua berita dari media massa yang menceritakan tentang kondisi demokrasi di Indonesia. Satu berita haruslah yang menceritakan keberhasilan pelaksanaan demokrasi, dan satu berita lainnya adalah Pernah gak sih kamu merasa bingung karena gak tahu apa yang harus kamu lakukan dalam hidup ini? Tapi terkadang, kamu juga merasa hidupmu yang begini-begini saja. Jika hal ini yang kamu rasakan, semoga tips di bawah ini bisa membantumu Bicaralah pada seseorang yang kamu percayai bisa memberi masukkan yang bisa bicara empat mata dengan orang terdekatmu saja. Nggak harus semua orang kamu ajak bicara untuk hal yang cukup rahasia ini. Kamu bisa ajak bicara saudaramu yang tentu sangat mengenal kamu. Atau kamu bisa bicara dengan teman dekat yang memang baik denganmu. Atau kamu juga bisa berbincang-bincang ringan dengan orangtuamu. Siapa tahu masukkan itu benar dan bisa kamu Mulailah sesuatu yang mungkin kamu sukai atau menjadi LiuJika kamu menyukai sesuatu, lanjutkan! Jangan pernah berhenti untuk terus melanjutkan apa yang kamu senangi. Meskipun bisa jadi akan ada banyak halangan di depan sana. Namun, percayalah bawah yang mengetahui apa kata hatimu itu ya hanya dirimu sendiri. Dan yang mengerti itu juga hanya dirimu Carilah insiprasi dari orang di sekitarmu atau dari tokoh-tokoh MikahContoh sederhana adalah ibumu saja. Wanita yang rela mengorbankan nyawa hanya untuk dirimu semata. Lihat perjuangannya untuk membesarkanmu. Masa iya kamu tega membuatnya kecewa dan sedih. Tentu tidak bukan? Atau kamu memiliki tokoh inspiratif lainnya yang bisa memacu semangatmu pun nggak masalah. Baca Juga 6 Bentuk Kamu Menghargai Diri Sendiri, Sudah Melakukannya? 4. Persiapkan segala sesuatu jauh-jauh hari sebelum memulai Russell-SawHal sederhananya dengan kamu membuat planning untuk ke depannya. Apa yang kamu mau, bagaimana caranya dan berapa ongkos pengorbanan yang musti dikeluarkan. Nggak perlu banyak-banyak dulu, cukup dua atau tiga saja namun kamu bisa mencapainya dengan baik. Itu sudah cukup. Dan baru setelah itu mulailah dengan planning yang lebih banyak dan lebih menantang Tinggalkan zona nyamanmu dan keluarlah mencari tantangan KarvounisYes! Keluar dari comfort zone itu harus! Jika kamu hanya mengekang dirimu di penjara yang serba-serbi nyaman tersebut. Maka tidak akan ada skill baru yang akan kamu dapatkan. Kamu menjadi tidak berpengalaman dan tidak cekatan jika ada hal yang sebelumnya belum kamu Nggak masalah jika kamu pernah gagal dan HalamaIya emang nggak masalah. Memang yang namanya gagal itu tidak enak. Namun, dari kegagalan itu kamu akan mendapat hikmah yang luar biasa banyak. Suatu saat nanti kamu akan bersyukur jika kamu pernah mengalami gagal. Karena jika kamu tidak pernah gagal kamu belum bisa disebut orang Nikmati ketidaktahuanmu itu! CichewiczSemakin kamu tidak tahu, semakin kamu mencari tahu. Justru bagus kan? Menjadikanmu pribadi yang selalu penasaran dan selalu ingin belajar. Tanpa kamu sadari kamu bisa mengantongi kompetensi lainnya yang belum tentu orang lain miliki. Jadi, jangan minder jika kamu tidak tahu atau belum bisa dalam suatu hal. Justru di situ dirimu akan fase dalam hidup manusia pasti melewati yang satu ini. Sekarang tinggal tergantung kamu kuat menjalaninya atau tidak. Baca Juga Kamu Tidak Akan Pernah Bisa Maju Selama Memikirkan 5 Hal Ini! IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.Semua orang pasti ingin ya, tidak sekadar menjadi pegawai biasa, tapi menjadi seorang pemimpin dalam suatu perusahaan. Istilah CEO semakin banyak digunakan saat ini, menggantikan istilah-istilah lama seperti Direktur Utama, ataupun Presiden Direktur. CEO, atau Chief Executive Officer merupakan jabatan tertinggi dalam sebuah perusahaan, dan merekalah yang menentukan arah perkembangan perusahaan tersebut. Kalau kamu mulai dari posisi staff, dan memikirkan jalan sampai menjadi CEO, rasanya perjalananmu akan sangat panjang. Butuh bertahun-tahun usaha dan dedikasi tinggi sebelum akhirnya bisa sampai ke posisi CEO seperti yang kamu inginkan. Meskipun begitu, beberapa orang berhasil lho menjadi seorang CEO dalam usia yang terbilang muda. Pernah terpikir bagaimana caranya? Baca Juga Tips Sukses Dari Para Founder Startup Untuk Motivasi Kamu CEO Muda Di luar negeri, sebut saja Mark Zuckerberg dari Facebook, Evan Spiegel dari Snapchat, sampai Ben Rattray dari Ketiganya berusia di bawah 40 tahun, tapi sudah memiliki perusahaan dengan nilai yang mengagumkan. Tentunya ketika mulai, usaha mereka tidak langsung meledak seperti sekarang. Diperlukan usaha dan kerja keras lebih untuk membangun usaha mereka, sehingga bisa sampai sekarang ini. Yang dari luar negeri sudah, lantas bagaimana dengan CEO di Indonesia? Sebut saja William Tanuwijaya dari Tokopedia, atau Achmad Zaky dari BukaLapak. Saat ini, siapa yang tidak tahu kedua e-commerce tersebut? Menjadi platform yang dicari oleh penduduk Indonesia dari Sabang sampai Merauke, menyediakan berbagai kebutuhan yang bisa diakses secara online. Bukan, umur keduanya bukanlah 40 atau 50 tahun, melainkan 36 dan 31 tahun, luar biasa ya? Di usia yang terbilang muda, orang-orang tersebut sudah berhasil memimpin perusahaan. Kalau mereka bisa, cita-citamu sebagai CEO muda pun bukan sekadar angin belaka. Apa saja tugas CEO? Contoh-contoh CEO muda sudah kita kenali, lantas, apa sih sebenarnya tugas mereka? Sedikit berbeda dengan entrepreneur yang menjadi agen perubahan, berpikir out of the box, dan menerobos tantangan, CEO lebih dari itu. Sebagai pemimpin, CEO terlibat dalam pengembangan dan pengelolaan timnya, menentukan apa saja yang harus dilakukan oleh setiap orang dalam tim yang dipimpinnya, serta memikirkan infrastuktur dan kebutuhan di sekitarnya. Di samping itu, tentunya menentukan strategi dan visi perusahaan, agar dapat berkembang lebih baik lagi. Termasuk juga menentukan pangsa pasar, pesaing, keunikan produk dan perusahaan, budgeting, dan lain sebagainya. Biasanya, hasil dari yang sudah dilakukan tidak bisa dilihat dalam jangka waktu singkat, tapi justru dalam jangka panjang. Salah satu ukuran keberhasilan CEO adalah juga dari segi kuntungan finansial. Tidak sekadar berbicara mengenai profit, tetapi juga alokasi budget perusahaan, agar setiap uang yang didapat bisa digunakan secara maksimal untuk keuntungan semua sektor perusahaan nih. Apa yang dikerjakan CEO biasanya akan dipertanggungjawabkan kepada investor perusahaan yang dipimpinnya nih. Jadi tentunya harus ada suatu hal positif ya, baik bagi tim yang ia pimpin, maupun bagi investornya. Karakter apa yang harus dimiliki CEO muda? Tentunya tidak sembarang orang bisa memegang jabatan sebagai CEO ya, karena diperlukan karakter-karakter tertentu. Baik itu dari dirinya sendiri, maupun dalam hal mengatur dan membangun hubungan dengan orang lain nih. Jadi apa saja sih, karakter yang harus dimiliki oleh seorang CEO muda? Fleksibel Fleksibel ini dalam arti memberikan kesempatan kepada anggota tim, untuk bisa bekerja sesuai dengan cara mereka masing-masing. Tentu perlu adanya suatu standar khusus, seperti apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, serta tenggat waktu yang diberikan. Tapi di luar itu, sebagai CEO boleh lho membiarkan anggota tim-mu bereksplorasi mengenai bagaimana mereka akan mengerjakan tanggung jawab yang kamu berikan. Toh ada 1000 jalan menuju Roma kan? Melihat dari sudut pandang berbeda Jangan salah, satu sudut pandang terkadang bisa “membutakan” kamu, terlebih dengan posisimu sebagai CEO lho. Kamu tidak tahu, apa yang terjadi di sisi lainnya, jika kamu hanya berpaku pada satu sudut pandang saja. Baiknya, kamu melihat dari sudut pandang lain juga, atau miliki “bird-eye view”. Maksudnya, kamu melihat kejadian apa pun dari sudut pandang yang lebih luas, mulai dari akar masalah, sampai dampak yang ditimbulkan. Dengan begitu, keputusan yang kamu ambil nantinya sudah berdasarkan pemikiran matang-matang dan mempertimbangkan semua kemungkinan yang ada. Sehingga meminimalisir hal-hal yang terlewat, atau efek samping di masa depan. Kendala = Peluang Banyak orang yang memilih jalan aman, dan menghindari risiko dalam apa yang mereka kerjakan sehari-hari. Masalahnya, hal tersebut bukanlah karakter seorang CEO. Sebagai CEO, kamu harus jadi pribadi yang berani ambil risiko, dan tidak takut akan kegagalan. Setiap kendala yang ada, sebenarnya merupakan peluang, tantangan, dan kesempatan untuk jadi lebih baik lagi. Kalau kamu punya pola pikir yang seperti itu, tentunya situasi seberat apa pun bisa kamu hadapi dengan santai dan dengan kepala dingin ya. Tentunya pengambilan risiko bukan sembarangan dan salah langkah lho ya, tapi dengan perhitungan dan “persiapan”. Kalau gagal pun, kamu bisa belajar banyak, dan menghindari jalan itu jika menjumpainya lagi di masa depan. Pilih lingkungan yang tepat Sejago apa pun kamu, dan sebaik apa pun karakteristikmu, tetap saja kurang lengkap jika tidak berada di lingkungan yang tepat. Kriteria yang tepat bisa berbeda-beda bagi setiap orang nih. Yang pasti, lingkungan tersebut membuatmu bisa mengeluarkan potensi terbaik yang kamu miliki sebagai seorang CEO. Selain itu, kamu juga menikmati bekerja di lingkungan tersebut ya. Jangan sampai, kamu “kehilangan” dirimu, dan tidak mengenali siapa kamu sebenarnya, karena berada di lingkungan yang salah. Dapatkan respect Mendapatkan respect, atau rasa hormat dari orang lain memang bukan suatu hal yang bisa dibuat-buat, atau dirancang sedemikian rupa ya. Yang bisa kamu lakukan secara langsung adalah mengerjakan bagianmu sebaik mungkin. Baik itu dalam hal tugas dan tanggung jawab, maupun pada saat bernegosiasi dan mengambil keputusan. Meskipun banyak orang yang lebih tua, baik itu investor maupun tim-mu sendiri, tetaplah bersikap senatural mungkin. Jangan kuatir, umur bukanlah masalah kalau kamu bisa membuktikan hal-hal luar biasa yang kamu miliki sebagai seorang CEO. Bagaimana calon CEO muda, apa kamu sudah memiliki karakter tersebut di atas? Menjadi CEO di usia muda bukanlah hal yang mustahil, asal kamu mempersiapkan diri dan mentalmu sedini mungkin. Kerjakan apa pun tugasmu sekarang dengan sebaik mungkin, sambil menyusun strategi apa yang akan kamu terapkan untuk perusahaanmu. Jangan lupa untuk membangun hubungan yang baik dengan anggota tim yang kamu miliki. Baca Juga Tipe Pemimpin Seperti Apakah Kamu? Simak 6 Tipe Pemimpin Ini Jadi tidak sekadar hubungan yang “dingin” dan kaku seperti atasan dan bawahan, tapi mereka pun bisa memiliki kecintaan terhadap pekerjaan mereka. Dengan begitu, tentunya dengan senang hati mereka akan berkontribusi dan mengeluarkan kemampuan terbaik mereka. Sebagai CEO tentunya kamu pun akan lebih tenang, karena tim yang kamu pimpin bisa berkontribusi maksimal. Sebelum menjadi CEO, tentu kamu harus memulai dari bawah dan mengumpulkan pengalaman sebaik mungkin. Kamu bisa mencari lowongan kerja di Glints dan apply, agar bisa segera membangun kariermu dari awal. Mudah dan gratis! Yuk, cari pekerjaan yang cocok dan wujudkan impian karier yang gemilang!Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan (77).”